Asuransiku “Nussa Life Financial” Hilang – Raib.

Saat perusahaan lembaga pendanaan termuka Lehmans Group di Amerika Serikat dinyatakan bangkrut. Nilai saham saham di bursa saham berguguran ketika terjadi krisis Financial di Amerika Serikat. Dampaknya mendunia tidak terkecuali di Indonesia dimana BEJ beberapa kali meniadakan transaksi (tutup) guna mencegah jatuhnya nilai saham.

Terhenyak dan tersadar bagaimana nasib dana ansuransi pendidikan anak saya yang dananya di tempatkan pada link link saham akankah bernasib sama dengan…???

Hal ini mengiring ingatan saya kepada Ansuransi Jiwa Nussa Life Financial yang mendapatkan
No. Polis. 9309A28894.
Dengan Kewajiban Iuran dijalani 12 tahun 2 bulan
Ketika tagihan iuran 3 bulan tidak dipungut apa gerangan yang terjadi???
Saya menelepon Kantor Pusat: Gedung Graha Bina Karsa Lt. 3, Jl. HR. Rasuna Said Kav. C 18, Jakarta 1294, Tel (021) 52964559.
Nada sibuk, tidak ada jawaban. Sampai tiga hari berturut turut tidak ada yang mengangkat.
Rasa penasaran memaksa mencari informasi dengan browsing internet tidak ada informasi yang memadai. Tanpa sadar sampai ke situs Depkeu dan mencari terus dan Ketemu Pengumuman Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 187/MK.6/2006, Tertanggal 14 Feb 2006 tentang tidak diperpanjang kontrak baru pembiayaan atas sejumlah perusahaan, termasuk PT. Ansuransi NussaLife Financial. Bagaimana nasib dana saya?

Saya menelepon ke Depkeu (Direktorat Ansuransi Depkeu) menanyakan nasib dana saya. Depkeu minta untuk mengajukan surat klim beserta pendukungnya. Dua bulan berselang diperoleh surat jawaban dengan No. S-542/BL/2006, 14-06-2006 yang isinya antara lain yang membuat miris.
– Dapat kami informasikan pula bahwa kontrak asuransi yang tertuang didalam polish merupakan perjanjian antara perusahaan ansuransi dan pemegang polis yang mengikat kedua belah pihak dengan segala akibat dan hukumnya. PT. Nussa L bertanggung jawab sepenuhnya kepada pemegang polis sesuai syarat dan kondisi yang berlaku.
– Selanjutnya pengaduan saudara akan kami teruskan kepada PT. Nussa-L untuk ditindak lanjuti.

Saya menghubungi Depkeu menanyakan alamat kantor PT. Nussa-L dan diberikan alamatnya di
Jl. Casablanka No. 23, Kampung Melayu Besar, Tel 021 83794539

Jawaban yang didapat di kantor PT. Nussa-L tidak pernah memuaskan…sampai 2 kali berkunjung kesana sesuai yang dijanjikan jawaban penuh dengan ketidak pastian. Kunjungan ketiga kali kantor ini sudah tutup… Pupuslah harapan…

Pencarian informasi terus dilakukan sampai ketemu sebuah situs ketemu yang menceritakan riwayat PT. Nussa L…Tulisannya ada dibawah.

http://anugerahperkasa-77.blogspot.com/2007/05/di-balik-pencabutan-asuransi-nussalife.html

Sadar… Tidak mengetahui banyak tentang prestasi PT. Nussa L
Sadar… Tidak pernah dihubungi akan hak saya.
Sadar… Ketika suatu perusahaan ansuransi bangkrut dana jaminan maksimum yang dapat diperoleh Rp.5.000.000,-
Sadar… Dana saya raib,jangankan Rp.5 juta… yang di dapat NOL Besar
Sadar… Tidak ada tindakan hukum dari Negeriku akibat melalaikan hak nasabah
Sadar… Saya mengumpat PT. Nussa L, kurang ajar…! bangsat…!
Sadar… Akankah hal yang sama terulang terhadap ansuransi yang lain????

(P&M)

Di Balik Pencabutan Asuransi Nussalife.

http://anugerahperkasa-77.blogspot.com/2007/05/di-balik-pencabutan-asuransi-nussalife.html

AK ADA akhir pekan yang menyenangkan bagi Binsar Sitohang di awal April tahun ini. Kekecewaannya membubung saat menerima kabar Departemen Keuangan mencabut izin delapan perusahaan asuransi, termasuk PT Asuransi Jiwa NussaLife Financial. Ini adalah perusahaan yang ingin dibenahinya. Jangankan rehat, dia langsung memimpin rapat maraton bersama rekan-rekannya selama dua hari. Mereka makin merapatkan barisan.

“Kami sudah cukup banyak kerugian untuk membenahi perusahaan,” ujar Sitohang, bercampur geram. “Departemen Keuangan tidak kooperatif.”

Departemen Keuangan pada 5 April lalu mencabut lima perusahaan asuransi jiwa dan tiga asuransi umum dengan alasan tidak mampu membayar klaim. Sebelum ditutup, delapan perusahaan itu juga dikenakan status pembatasan kegiatan usaha (PKU) dalam masa yang berbeda. NussaLife sendiri menerima status PKU itu pada 12 Oktober 2005.

Sejak 1991, perseroan itu dimiliki oleh Handoko Winata dan dikenal dengan nama Intan Life. Tujuh tahun berikutnya, kepemilikan saham terbesar beralih ke Fadel Muhammad-pengusaha sekaligus politikus-dan sepuluh persennya oleh PT Marga Investindo. Fadel aktif di Partai Golongan Karya (Golkar), kini menjabat sebagai Gubernur Gorontalo untuk kedua kalinya periode 2006-2011.

Pergantian kepemilikan terus berlanjut. Fadel menjual sahamnya kepada pebisnis Tubagus Adjenar Arifin pada Desember 2003, setelah mengalami kerugian setahun sebelumnya. Pada Juni 2005, nama perseroan pun berubah menjadi NussaLife.

Sebelumnya, Direktur Direktorat Asuransi Departemen Keuangan Firdaus Djaelani pernah menemui Fadel karena kinerja perusahaan yang kian memburuk. Fadel bangkrut, papar dia, karena pengaruh krisis moneter pada 1997 silam. “Usahanya banyak, pinjamannya juga banyak.”

Setelah penjualan dilakukan, Arifin sebagai pemilik baru meminta Sitohang memimpin Tim Restrukturisasi dan Penyehatan NussaLife pada Maret 2006 di bawah pengawasan Direktorat Asuransi. Tujuannya, agar klaim beserta cadangan yang belum dibayarkan sebesar Rp28 miliar dapat dipenuhi dan perusahaan sehat kembali.

Namun, urusannya menjadi tidak sederhana.

Aset milik Arifin berupa perkebunan PT Perkebunan Djasinga di Bogor, Jawa Barat, senilai Rp40 miliar belum juga terjual. Padahal dana segar dibutuhkan untuk membayar klaim para pemegang polis dan kebutuhan lainnya. Arifin hanya menyetor Rp300 juta dari komitmen awal Rp1,5 miliar pada 2005. Tim tersebut akhirnya memutuskan aksi mereka tak sekadar menjual aset, melainkan memburu investor baru.

Selama beroperasi, Intan Life diperkirakan memiliki 16.000 nasabah yang tersebar di seluruh Indonesia. Ketika perseroan itu merugi, banyak pemegang polis kebingungan. Ada yang ingin melanjutkan pembayaran premi. Ada pula jatuh tempo. Dalam beberapa surat pembaca di media massa, umumnya mereka menanyakan lokasi kantor Intan Life yang sudah tutup di daerah mereka.

Tapi, bagaimana sebenarnya penurunan performa perusahaan itu terjadi?

Goncangan keuangan itu dapat dilihat pada 2002. Sebelumnya, Intan Life memiliki tingkat risk based capital (RBC)-rasio kecukupan modal-sebesar 187% atau melebihi dari ketentuan pemerintah yaitu 120%. Namun waktu itu menukik minus menjadi 153%. Demikian pula laba bersih yang mengalami defisit Rp24,53 juta dari surplus Rp210 juta, setahun sebelumnya.

Sitohang mengungkapkan kerugian itu bermula pada pengeluaran-pengeluaran yang tak menguntungkan perseroan sejak 2000. Biaya tinggi, namun minim hasil. Mulai dari sewa gedung, penempatan dana, hingga tuduhan manipulasi uang nasabah.

“Saya laporkan dana cadangan sudah berkurang namun Fadel tak mengerti. Gagasan saya soal investasi, tidak berkenan di hatinya,” ujar Sitohang.

Sitohang memulai karier di bidang asuransi sejak 1972 di Medan, Sumatra Utara. Pada 1991, dia bekerja sebagai Direktur Pemasaran Intan Life dan mendapuk kursi utama enam tahun sesudahnya. Ketidakcocokannya dengan Fadel, membuat dia memutuskan keluar pada September 2002. Posisinya kemudian digantikan Faizal Muhammad, adik kandung Fadel.

Ongkos yang merugikan itu salah satunya adalah perpindahan kantor pusat dari Gedung Nindya Karya, kawasan Cawang, Jakarta Timur ke Graha Anugerah, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada 2001. Sitohang mengungkapkan biaya gedung-yang merupakan milik Fadel-itu demikian menjulang. “Hampir mencapai Rp400 juta setahun.”

Sebelumnya untuk sewa kantor lama, perseroan hanya membayar Rp80 juta per tahun. Sedangkan sejak perpindahan tersebut, biaya yang dikenakan adalah Rp80 juta per tiga bulan atau naik empat kali lipat, tepatnya Rp320 juta per tahun. Ini yang membuat Sitohang gerah.

Kegerahan sebelum itu pun terjadi. Pembelian tanah seluas 22 hektare di Malimping, Banten Jawa Barat oleh Fadel pada 2000 membuatnya tak habis pikir. Sitohang mengatakan harga tanah tersebut per meternya hanya berkisar Rp2.000 karena sama sekali tak potensial dan gersang. Namun akhirnya, uang yang digelontorkan mencapai Rp990 juta.

“Saya terpaksa dan sakit hati. Nilai yang dilambungkan besar sekali.”

Fadel juga membuka PT Ramanda Multi Media-yang bergerak di bidang e-commerce- dengan modal Rp1,20 miliar dari Intan Life, dan menunjuk orang dekatnya, Ramles Manampang Silalahi sebagai direktur utama. Namun, perusahaan itu tak jelas bisnisnya.

Ramles merupakan alumnus mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1975 dan dikenal sebagai aktivis anti-Soeharto. Dia juga menjabat Ketua Departemen Penerangan Dewan Mahasiswa ITB periode caretaker 1977.

Ramles bergabung dengan Fadel saat mendirikan PT Bukaka Kujang Prima dengan fokus rekayasa dan konstruksi pabrik pada 1991. Fadel sebelumnya bekerja di PT Bukaka Teknik Utama, milik Jusuf Kalla, saudagar asal Makassar, Sulawesi Selatan yang kini menjabat Wakil Presiden. Kedekatan keduanya dimulai dari sana.

Loyalitas yang ditunjukkan Ramles memang membuahkan hasil. Sikap itu juga yang membuatnya mendapatkan sejumlah jabatan dan kepemilikan saham di perusahaan milik tokoh Golkar tersebut. Misalnya saham 25% di Golden Key Group-perusahaan peninggalan koruptor Eddy Tanzil-yang dibeli Fadel pada 1997. Lainnya, Ramles juga menjadi komisaris di PT Bank Intan dan Intan Life serta menjadi direktur pada PT Anugerah General Insurance (AGI) sekaligus di Ramanda. Dia memutuskan berhenti sekitar 2002.

Cerita dari Kusdiarto, mantan Direktur Keuangan Intan Life periode 1998-2000, membenarkan betapa dekatnya hubungan antara keduanya. Ramles dinilai punya pengaruh karena dukungan Fadel dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk investasi. Dia mencontohkan soal pembelian tanah di Malimping, Banten.

“Dia adalah otak dari tim investasi. Sitohang tidak dilibatkan secara langsung,” ujar Kusdiarto. “Power-nya besar sekali.”

Kusdiarto mundur Desember 2000 karena tidak sepaham dengan Ramles soal investasi. Lainnya, sambung dia, adalah prinsip-prinsip akuntansi yang tidak diterapkan secara benar. Saya menanyakan apakah ada dugaan manipulasi akuntansi yang dilakukan selama ini.

“Saya tidak mengatakan itu, tapi mustinya dikelola berdasarkan prinsip akuntansi yang benar,” timpalnya.

Kusdiarto kini menjabat sebagai manajer sumber daya manusia di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas lepas pantai. Setahu dia, Ramles kini tak berbisnis lagi dan sakit-sakitan. Kabarnya Ramles memilih menjadi pendeta.

Dugaan ini tidak sepenuhnya salah. Dari bibir Joshua Silalahi, anak bungsu Ramles, meluncur kesaksian bahwa ayahnya memang aktif di pelayanan gereja kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Soal sakit, ayahnya pernah terkena vertigo dan kini memakai hearing aids karena indera dengarnya bermasalah. Joshua mengatakan Ramles berjumpa Fadel pada akhir 2006 dalam sebuah pertemuan tertutup. Namun, dia mengaku tak mengetahui isi pembicaraan maupun tempatnya.

“Sekarang papa di mana?” tanya saya.
“Baru saja berangkat ke luar negeri.”
“Ke mana?”
“Ke Israel.”

Tak hanya soal Ramles, saya juga menanyakan soal Ramanda, AGI hingga pembelian tanah di Malimping kepada Fadel melalui telepon. Jawabannya hampir serupa: tidak ingat. Terakhir, Fadel malah meminta saya agar berhati-hati dengan Sitohang.

Fadel balas bertanya, mengapa saya meminta informasi tentang sesuatu yang telah usang. Menurut dia, lebih baik meliput tentang pertumbuhan ekonomi ke masa yang akan datang. “Ngapain mempersoalkan barang-barang seperti itu,” tandas Fadel, “semuanya sudah masuk kubur.”

Namun bagi Sitohang, masalah itu belum lagi rampung. Dia menduga Fadel mengetahui sisa dana nasabah Rp13,47 miliar yang ditempatkan pada deposito berjangka setelah dirinya keluar. Pada 2002, jumlah investasi tersebut mencapai Rp13,90 miliar, namun melorot drastis menjadi Rp422,48 juta setahun sesudahnya.

Laporan keuangan Intan Life 2003 menyatakan, jumlah total pendapatan adalah Rp15,14 miliar atau menurun dibandingkan 2002 yaitu Rp18,68 miliar. Kalau dikurangi beban asuransi bersih Rp15,12 miliar maka terdapat sisa Rp21,55 juta.

Jika dikalkulasi dengan jumlah deposito yang tidak berkurang, seharusnya perusahaan mendapatkan jumlah lebih dari Rp21,55 juta. Laporan itu mencatat, Intan Life sendiri merugi Rp5,13 miliar.

Tak hanya soal deposito. Fadel juga diketahui menarik Rp4,20 miliar pada Desember 2002 sebagai pinjaman sub-ordinasi, dengan bukti sebuah cek dari Faizal Muhammad sebagai gantinya. Tindakan tersebut sebenarnya dilarang oleh Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No.481/1999 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Perasuransian, karena kondisi perusahaan tengah sakit.

Pada pasal 27 KMK tersebut dinyatakan, perusahaan asuransi dilarang mengembalikan pinjaman sub-ordinasi atau melakukan segala bentuk pengalihan modal kepada pemegang saham apabila menyebabkan tidak terpenuhinya tingkat solvabilitas sesuai peraturan.

Ini yang menyebabkan kuasa hukum Tim Restrukturisasi dan Penyehatan NussaLife mengirimkan undangan klarifikasi untuk Fadel pada November dan Desember 2006. Namun tak ada tanggapan. Pada Januari lalu, surat peringatan terakhir kembali dilayangkan sebelum mempersiapkan langkah hukum.

“Fadel,” ujar Sitohang, “akan tetap kami kejar.”

Pengambilan dana itu pun membuat gusar Agung Putra, Wakil Ketua Panitia Tim Restrukturisasi dan Penyehatan. Menurut Agung, dalam transaksinya Fadel berjanji, penarikan itu akan langsung diganti oleh Faizal dengan jumlah yang sama.

Tapi Faizal hanya menyerahkan cek tersebut ke perusahaan-bukan bank-sehingga uang pun belum cair. Lagipula, timpal Agung, pengambilan uang oleh Fadel harus terlebih dulu melalui rapat usaha pemegang saham. Tidak bisa seenaknya.

Serupa dengan kakaknya, Faizal pun diminta datang untuk memberikan klarifikasi kepada Tim itu pada Februari 2007. Tapi jawabannya, nihil.

Agung sendiri mulai bergabung ke Intan Life pada 2004. Sebelumnya, pernah menjabat sebagai Kepala Cabang Bank Nusa Jakarta Pusat periode 1993-1998. Dia mulai terjun ke dunia asuransi sejak bergabung ke Asuransi Mubarakah pada 2002.

“Ada yang mengejar dugaan pelanggarannya. Saya memfokuskan pada investor baru yang mau masuk. Semua orang di sini berjuang,” ujar dia.

Tak sekadar soal Fadel. Tim tersebut kini tengah meminta klarifikasi ke Fuad Rahmany, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, soal pencabutan izin NussaLife. Menurut Agung, penutupan tersebut menandakan regulator mengabaikan latar belakang dan kemajuan kinerja Tim Restrukturisasi dan Penyehatan dalam mengembalikan kesehatan perusahaan. “Padahal,” ujar dia, “Departemen Keuangan juga yang membentuk kepanitiaan ini.”

Saya mendatangi kantor NussaLife di kawasan Cassablanca, Jakarta Selatan. Ada nasabah yang kebingungan. Marah. Tapi ada pula kesedihan karyawannya. Salah satunya, Christina Leander yang bergabung ke perusahaan itu sejak 1994.

“Saya ditelepon malam-malam dan diberitahu tentang pencabutan itu. Padahal baru saja sampai di rumah. Saya sampai nangis, badan saya gemetaran.” (anugerah. perkasa@bisnis.co.id)
Posted by anugerahperkasa at 12:12 PM
Labels: finance

2 Balasan ke Asuransiku “Nussa Life Financial” Hilang – Raib.

  1. yudho hendro mengatakan:

    saya pemegang polis juga, dan saya tidak diberi tahu sedikitpun tentang kebangrutan PT Nussa life ini, waduh kalo begitu uang saya hilang dong dan tak tergantikan? aku harus melapor kemana nih supaya uang saya bisa cair?
    mohon bantuannya

  2. DINAR ANGGRAENI mengatakan:

    saya dinar …saya juga mengalami hal buruk diatas…dmn seharusnya thn 2012 sya menerima uang asuransi dari pt. nussa life financial dan ternyata perusahaan asuransinya telah bubar…..mohon bantuannya……

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: